Prinsip otonomi dalam etika bisnis berarti sikap atau kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang sesuatu yang dianggap baik dan harus dilakukan. Dalam hal ini, perusahaan atau pemilik binsis bebas memiliki wewenang sesuai dengan bidang bisnis yang dijalani dan visi misi yang dimiliki oleh perusahaan yang sedang dijalankan.
Prinsip otonomi dalam penentuan kebijakan yang diambil oleh perusahaan harus diarahkan untuk pengembangan dan pencapaian visi dan misi dari perusahaan. Prinsip otonomi tersebut harus mampu mengatur perilaku setiap pelaku bisnis untuk berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan karyawan dan komunitasnya.
2. Prinsip kejujuran
Kejujuran adalah suatu hal yang harus dimiliki oleh para pelaku bisnis untuk mencapai keberhasilan dan mempertahankan bisnisnya dalam jangka waktu yang lama. Prinsip kejujuran ini menjadi sangat penting untuk mewujudkan eksistensi yang baik dalam dunia bisnis. Ada beberapa alasan mengapa prinsip kejujuran sangat penting dalam dunia bisnis.
Pertama adalah karena kejujuran sangat berhubungan dengan pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak bisnis. Kejujuran ini sangat penting dilakukan pada saat mengadakan perjanjian dan untuk menentukan relasi dan kelanjutan bisnis oleh masing-masing pihak. Jika prinsip kejujuran ini tidak dilakukan, maka kemungkinan kecurangan oleh masing-masing pihak akan sangat besar.
Kedua, kejujuran sangat penting dan relevan dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga yang sesuai. Prinsip kejujuran ini sangat penting untuk membangun dan menjaga kepercayaan konsumen. Jika suatu perusahaan menjunjung tinggi prinsip kejujuran, maka konsumen akan lebih tertarik dan simpati pada bisnis anda.
Ketiga, kejujuran berperan penting dalam hubungan internal pada suatu perusahaan. Hubungan internal antar karyawan dalam suatu perusahaan menjadi sangat penting untuk mewujudkan eksistensi perusahaan supaya bertahan lama. Prinsip kejujuran dapat membina hubungan yang baik antar karyawan dalam suatu perusahaan.
3. Prinsip keadilan
Prinsip keadilan mengatur segala perilaku agar setiap orang diperlakukan sesuai dengan porsi yang menjadi haknya sesuai dengan aturan yang adil dan kriteria yang obyektif sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip keadilan adalah prinsip yang tidak akan merugikan hak dan kepentingan orang lain karena disesuaikan dengan harkat dan martabat yang melekat dalam individu.
4. Hormat pada diri sendiri
Sikap hormat dapat dikatakan sebagai sikap menghargai. Dalam menjalankan dunia bisnis, setiap orang harus memiliki sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain untuk mewujudkan keadaan yang kondusif dalam pelaksanaan bisnis.
Rasa hormat harus dimiliki oleh setiap orang dalam suatu perusahaan untuk menciptakan lingkungan yang saling menyayangi tanpa ada sikap meremehkan orang lain. Hal ini menjadi sangat penting karena dalam dunia bisnis diperlukan kerja sama yang baik dan saling membutuhkan satu sama lain untuk mewujudkan perkembangan dan kemajuan bisnis yang dijalani.
5. Hak dan kewajiban
Hak dan kewajiban selalu melekat pada setiap orang. Hak adalah sesuatu yang harus diterima atau didapatkan oleh seseorang dari pihak tertentu yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa. Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh seseorang sebagai wujud tanggung jawab dalam melakukan segala sesuatu.
Prinsip hak dan kewajiban sangat penting dalam dunia bisnis untuk menciptakan lingkungan pekerjaan yang kondusif dan dapat dipertanggungjawabkan. Hak dan kewajiban harus berjalan seimbang untuk menghasilkan pekerjaan yang baik. Setiap karyawan harus melaksanakan kewajiban untuk mendapatkan haknya dari atasannya.
6. Teori etika lingkungan
Dalam melaksanakan bisnis prinsip yang juga harus diperhatikan adalah prinsip etika di lingkungan hidup. Prinsip etika lingkungan yang harus dimiliki dalam dunia bisnis adalah:
a. Sikap hormat terhadap alam
Dalam menjalankan suatu bisnis harus memperhatikan kelestarian alam dengan selalu menghormati alam. Suatu bisnis tidak boleh memberikan efek yang buruk bagi lingkungan atau bahkan mengeksploitasi alam.
b. Prinsip tanggung jawab
Prinsip tanggung jawab tidak hanya bersifat individu, tetapi juga berkelompok yang dapat menuntut setiap orang untuk melaksanakan segala perilaku, usaha, kebijakan, dan tindakan nyata bersama untuk menjaga kelestarian alam dan seisinya.
c. Prinsip solidaritas
Prinsip solidaritas sangat penting untuk membangkitkan perasaan yang sama dengan alam dan makhluk hidup lainnya sehingga mendorong setiap orang untuk menyelamatkan lingkungan.
d. Prinsip kasih sayang dan kepedulian
Rasa kasih sayang dan kepedulian pada alam dapat menjadi faktor terpenting dalam membangun suatu bisnis. Kecintaan pada lingkungan menyebabkan bisnis yang dijalankan juga dapat dinikmati bersama dan tidak merugikan pihak lain.
Secara etimologi etika berasal dari Bahasa yunani yaitu “ethos” yang berarti sikap, cara berpikir, watak, kesusilaan atau adat. Menurut larkin (2000) “Ethics is concornet with moral obligation, responsibility, and social justice” yang berarti bahwa etika meperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban moral, tanggung jawab, dan keadaan social.[1]
Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia istilah etika diartikan sebagai:
(1)Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(2)Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
(3)Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat
Jadi secara etimologis, etika adalah ajaran atau ilmu tentang adat kebiasaan yang berkenaan dengan kebiasaan baik atau buruk, yang diterima umum mengenai sikap, perbuatan, kewajiban dan sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa etika merupakan suatu cabang ilmu filsafat, yang tujuannya adalah mempelajari perilaku, baik moral maupun immoral, dengan tujuan membuat pertimbangan yang cukup beralasan dan dapat diterima oleh suatu golongan tertentu atau individu.
Antonius alijoyo (2004) menerangjan bahwa suatu perusahaan perlu menerapkan nilai-nilai etika berusaha, karna dengan adanya etika berusaha dan kejujuran dalam berusaha dapat menciptakan aset yang langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan nilai perusahaan. Etika bisnis tidak akan dilanggar jika terdapat aturan dan sangsi.
Para pelaku usaha dapat memperoleh ilmu etika melalui etika, selain pengalaman dan innformasi moral yang diterima dari berbagai sumber. Dalam teori etika ada 4 macam yaitu:
(1)Etika Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban atau sesuai dengan prosedur dan logos yang berarti ilmu atau teori. Menurut teori ini beberapa prinsip moral itu bersifat mengikat betapapun akibatnya. Etika ini menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdsarkan akibat atau tujuan baik dari tidakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri. Atau dengan kata lain tindakan itu bernilai moral karna tindakan itu dilaksanakan kewajiban yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Teori ini menekankan kewajiban sebagai tolak ukur penilaian baik atau buruknya perbuatan manusia, dengan mengabaikan dorongan lain seperti rasa cinta atau belas kasihan. Terdapat tiga kemungkinan seseorang memenuhi kewajibannya yaitu: karna nama baik, karna dorongan tulus dari hati nurani serta memenuhi kewajibannya. Deontologist menetapkan aturan, prinsip dan hak berdasarkan pada agama, tradisi, arau adat istiadat yang berlaku. Yang menjadi tantangan dalam penerapan deontological disini adalah menentukan mana tugas, kewajiaban, hak, prinsip yang didahulukan. Sehingga banyak fiosof yang menyarankan bahwa tidak semua prinsip deontological harus ditetapkan secara absolut. Teori ini memang berpijak pada norma-norma moral kongkrit yang harus ditaati, namun belum tentu mengikat untuk kondisi yang bersifat khusus. Contohnya seseorang boleh saja merampok kalau hasil rampokannya dipakai untuk memberi makan orag yang terkena musibah.
(2)Etika Teleogi
Istilah teleology berasal dari kata Yunai telos yang berarti tujuan, sasaran, atau hasil dan logos yang berarti ilmu atau teori. Etika ini mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dalam tindakan itu, atau berdasarkan konsekuensi yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Suatu tindakan dinilai baik, kalau bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau kalau konsekunsi yang ditimbulkannya baik dan berguna. Bila kita akan memutuskan apa yang benar, kita tidak hanya melihat konsekuensi keputusan tersebut dari sudut pandamg kepentingan kita sendiri. Tantangan yang sering dihadapi dalam penggunaan teori ini adalah bila kita bisa kesulitan dalam mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan mengevalusi semua kemungkinan konsekunsi dari keputusan yang diambil.
(3)Etika Hak
Etika hak memberi bekal kepada pebisnis untuk mengevaluasi apakah tindakan, perbuatan dan kebijakan bisnisnya telah tergolng baik atau buruk dengan menggunakan kaidah hak sesorang, hak seseorang sebagai manusia tidak dapat dikorbankan oleh orang lain atas statusnya.
Hak manusia adalah hak yang dianggap melekat pada setiap manusia, sebab berkaitan dengan realitas hidup manusia sendiri. Etika hak kadang kala dinamakan “hak manusia” sebab manusia berdasarkan etika harus dinilai menurut martabatnya. Etika mempunyai sifat dasar dan asasi (human reights), sehingga etika hak tersebut merupakan hak yang: (1) tidak dapat dicabut atau direbut karna sudah ada sejak manusia itu ada (2) tidak tergantung kepada persetujuan orang (3) merupakan bagian dari eksistensi manusia di dunia.
(4)Etika Keutamaan
Etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat suatu tindakan, tidak berdasarkan penilaian moral pada kewajiban terhadap hukum moral universal seprti kedua teori sebelumnya. Etika ini lebih mengutaman pembangunan karakter moral pada diri setiap orang. Nilai moral buakn muncul dalam bentuk adanya aturan berupa larangan atau perintah, namun dalam bentuk teladan moral yang nyata dipraktikkan oleh tokoh tertentu dalam masyarakat. Didalam etika karakter lebih banyak dibentuk oleh komunitasnya. Pendekatan ini terutama berguna dalam menentukan etika individau yang bekerja dalam seuah komunitas professional yang telah mengembangkan norma dan standar yang cukup baik. Keuntungan teori ini bahwa pengambil keputusan dapat dengan mudah mencocokkan dengan standar etika komunitas tertentu untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah tanpa ia harus menentukan kriteria terlebih dahulu (dengan asumsi telah ada kode perilaku).
2.Pengertian Bisnis
Bisnis adalah kegiatan manusia dalam mengorganisasikan sumberdaya untuk menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Bisnis adalah membuktikan apa yang dijanjikan (promise) dengan yang diberikan (deliver). Bisnis adalah kegiatan diantara manusia untuk mendatangkan keuntungan. Dalam bisnis terdapat persaingan dengan aturan yang berbeda dengan norma-norma yang berbeda dalam masyarakat. Dalam kamus besar Bahasa Indonesi bisnis diartikan sebagai:
a.Kegiatan dengan mengarahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud
b.Kegiatan dalam bidang perdagangan atau perbisnisan
Bisnis dapat pula diartikan berdasarkan konteks organisasi perusahaan, yaitu: usaha yang dilalukan organisasi atau perusahaan dengan menyediakan produk barang atau jasa dengan tujuan memperoleh nilai yang lebih (value added). Karna organisasi (perusahaan) yang menyediakan produk barang atau jasa tertentu dengan tujuan memperoleh untung atau laba, tentu saja prospek mendapatkan laba, selalu memperhitungkan perbedaan penerimaan bisnis dengan biaya yang dikeluarkan. Maka laba disini merupakan pemicu (driver)bagi pebisnis untuk memulai dan mengembangkan bisnis. Bagaimanapun juga pebisnis mendapatkan laba dari resiko yang telah diambil ketika menginvestaiskan sumberdaya (modal, keahlian, dan waktu) mereka.
Dalam system kapitalis bisnis dijalankan untuk mendapatkan lababagi pemilik dan juga bebas untuk mendapatkannya. Namun konsumen juga memiliki kebebasan untuk memilih. Dalam memilih cara mengejar laba bisnis harus memperhitungkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen.
3.Pengertian Etika dalam Bisnis
Istilah etika bisnis, jauh lebih muda dari pada istilah etika itu sendiri. Etika bisnis sudah mulai muncul sejak tahun 1960an. Pada saat itu ditandai dengan perubahan-perubahan sudut pandang dalam perilaku komunitas di Amerika Serikatdan uga menghadapi dunia bisnis. Setelah perang dunia kedua berakhi, perang dingin dengan Uni Soviet masih tetap berlanjut, Amerika saat itu melibatkan diri dalam perang Vietnam, yang mendorong para oposisi untuk mengeluarkan isu-isu kebijakan public dan pergerakan-pergerakanhak-hak rakyat sipil mencuat di tengah-tengah masyarakat.
Ekonomi Amerika kala itu bertumbuh cepat dan mendominasi pertumbuhan ekonomi dunia, Amerika merajai bisnis ekonomi dunia, perusahaan-perusahaannya beroperasi dibanyak Negara-negara dunia. Pelaku-pelaku bisnis yang memiliki harta cukup banyak memasuki panggung politik dan berhasil dan sebagian pengusaha lainnya menjadi penguasa pemerintah kala itu. Bisnis-bisnis besar telah menggeser posisi bisnis-bisnis kecil dan menengah. Disektor industri tercatat perkembangan yang cukup tajam dengan menghasilkan banyak inovasi baru yang spektakuler. Tidak semua inovasi dan teknologi yang ditemukan berdampak positif bagi kehidupan manusia dan sebagian menjadi penyebab kerusakan lingkungan yang parah. Sustainability nyaris terabaikan dalam pemikiran pebisnis saat itu, hingga mereka menuai protes dari benyak kalangan pecinta alam baik dari dalam negri maupun dari luar negri termasuk Indonesia. Kritikan-kritikan dari politisi pun bermunculan, demikian juga gerakan-gerakan swadaya masyarakat yang mengusung kepentingan public. Desakan-desakan tersebut akhirnya mendorong peruaahaan-perusahaan untuk merumuskan berbagai progam tanggung jawab social perusahaan (corporate social responsibility).
Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat. Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh ketentuan hukum.
Sebagai cabang dari filsafat etika, maka tidak lain etika bisnis merupakan penerapan prinsip-prinsip etika dengan kedekatan filsafatdalam kegiatan progam bisnis. Karena semua teori tentang etika dapat dimanfaatkan untuk membahas tentang etika bisnis. Aspek yang dominan dari semua etika bisnis bermuara pada peilaku bermoral dalam kegiatan bisnis.
Etika dalam arti sebenarnya dianggap sebagai acuan yang menyatakan apakah tindakan, aktifitasm atau perilaku individu bisa dianggap baik atau tidak.
Mengacu kepada batasan etika bisnis dari berbagai pandangan ahli yang telah dikemukakan, maka peran etika bisnis adalah membahas dan menunjukkan alternative pemecahan masalah bisnis yang berlandaskan nilai-nilai moralitas dalam suatu kegiatan bisnis. Landasan dalam hal ini adalah prinsip-prinsip, nilai dan norma moral yang terwujud dalam sikap dan perangai (akhlak) para pelaku bisnis dalam menyelenggarakan usaha bisnisnya dengan menjunjung tinggi pertisipan bisnisnya.
Etika bisnis merupakan salah satu bagian dari prinsip etika yang diterapkan dalam dunia bisnis (Lozano, 1996). Istilah etika bisnis mengandung pengertian bahwa etikka bisnis merupakan sebuah rentang aplikasi etika yang khusus mempelajari tindakan yang diambil oleh bisnis dan pelaku bisnis.
Beberapa pebisnis berpendapat bahwa terdapat hubungan simbolis antara etika dan bisnis dimana masalah etik sering dibicarakan pada bisnis yang berorientasi pada keuntungan. Dalam hal ini terdapat versi yang lemah dan versi yang kuat. Versi yang lemah mengatakan bahwa etika yang baik dihasilkan oleh bisnis yang baik. Sedangkan versi yang kuat menyatakan bahwa dalam pasar yang kompetitif dan bebas, motif keuntungan akan terkait dengan lingkungan yang sesuai dengan isu moral tersebut. Itulah sebabnya jika pelanggan menginginkan produk yang aman, atau para pekerja menginginkan privasi, maka mereka akan memperolahnya dari bisnis yang memenuhi kebutuhan tersebut. Dan bisnis yang tidak memenuhi kebutuhan tersebut maka bisnis itu tidak akan bertahan. Sejak adanya pandangan bahwa dorongan untuk emperoleh keuntungan akan menciptakan moralitas, versi yang kuat mengemukakan bahwa bisnis yang baik dihasilkan oleh etika yang baik.
Etika
berasal dari kata Yunani ‘Ethos’ (jamak – ta etha), berarti adat istiadat.
Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang
maupun pada suatu masyarakat. Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tatacara
hidup yang baik, aturan hidup yang baik dan segala kebiasaan yang dianut dan
diwariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke
generasi yang lain.Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat
kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang
benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik,
berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai,
kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik. Tujuan
etika dalam pandangan filsafat ialah mendapatkan ide yang sama bagi seluruh
manusia disetiap waktu dan tempat tentang ukuran tingkah laku yang baik dan
buruk sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran manusia. Akan tetapi dalam
usaha mencapai tujuan itu, etika mengalami kesulitan, karena pandangan
masing-masing golongan dunia ini tentang baik dan buruk mempunyai ukuran
(kriteria) yang berlainan. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika
(studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika
terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika).
Etika sebagai filsafat moral tidak
langsung memberi perintah konkret sebagai pegangan siap pakai.
Etika dapat dirumuskan sebagai refleksi kritis dan rasional mengenai :
a. Nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik sebagai
manusia
b. Masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma moral
yang umum diterima 2. Pengertian Etika a. Etika
Deontologi b. Etika
Teleologi
Egaoisme Etis, egoisme
etis ini atau etika egoisme ini adalah bahwa tindakan dari setiap orang
adalah mengerjar kepentingan pribadi dalam memajukan dirinya sendiri.
Utilitarianisme, berasal
dari bahasa latin utilis memiliki arti “bermanfaat”. Menurut teori etika
ini utlitariasme ini adalah suatu perbuatan baik jika perbuatan itu
membawa manfaat itu harus menyangkut lebih dari satu orang melainkan
kelompok, masyarakat sebagai keseluruhan.
c. Teori Hak d. Teori
Keutamaan (Virtue)
Etika
dapat diartikan kebiasaan dan juga susila. Dari arti tersebut, maka, kita dapat
mengartika etika tersebut sebagai penilaian terhadap tingkah laku maupun tutur
kata seseorang. Jika seseorang mempunyai tutur kata dan tingkah laku yang baik,
maka bisa dikatakan etika seseorang tesebut baik, sebaliknya, jika tingkah laku
dan tutur kata seseorang kurang bagus, maka, bisa dikatakan etika dari seorang
tersebut juga tidak baik.Dalam berbagai kegiatan yang kita lakukan dalam
sehari-hari, kita selalu menggunakan etika, baik etika terhadap orang tua,
etika dalam belajar-mengajar dalam lingkungan pendidikan, maupun etika dalam
bisnis. Etika yang diperlihatkan seseorang dalam berbagai kegiatan,
mencerminkan pribadi dari diri seorang tersebut. Etika yang baik akan membuahkan
penghormatan bagi pihak lain kepada diri kita sendiri, sehingga, jika kita
beretika yang baik, kita akan mendapat perlakuan yang baik juga dari orang
lain, baik yang mengenal kita, maupun yang tidak kenal.
Etika
bisnis merupakan salah satu hal terpenting di setiap bisnis, karena dari
etikalah sebuah perusahaan akan terlihat seberapa bagus dari sudut kinerjanya
yang baik. Sekarang ini banyak sekali perusahaan yang melakukan tindak pidana,
khususnya yang berbau KKN, karena dari setiap individu orang tersebut yang
tidak mempunyai sebuah etika.Etika dapat memberikan manusia peganggan
atau dasar dalam menjalani kehidupan didunia. Yang berarti semua tindakan
manusia selalu memiliki dasar dan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu
perlu kita ketahui etika atau moral yang baik dalam membangun sebuah etika yang
khususnya dalam bisnis.
1.
Pengertian teori
Teori
memiliki pengertian sebagai serangkaian bagian atau variabel, definisi juga
bisa diartikan sebagai dalil yang saling berhubungan. Dari hasil tersebut
menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena. Dengan menentukan
hubungan antara variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena alamiah.
Kata
teori memiliki arti yang berbeda-beda tergantung pada bidang-bidangnya, yang
contohnya jika pada bidang pengetahuan yang berbeda pula itu juga tergantung
pada metodologi dan konteks diskusi setiap bidang.
Secara
umum, teori merupakan analisis sebuah hubungan antara fakta yang satu dan fakta
yang lain pada sekumpulan fakta-fakta. Selain itu berbeda dengan teorema,
pernyataan teori ini pada umumnya hanya diterima secara “sementara” dan
bukan merupakan sebuah keputusan akhir yang konklusif.
Setelah
kita mengetahui pengertian dari teori maka selanjutnya adalah pengertian dari
etika, sebagai berikut.
Etika dalam teori etika bisnis ini memiliki bagian yang
sangatlah penting. Etika sendiri memiliki arti yaitu sebagai suatu norma atau
aturan-aturan yang dipakai sebagai pedoman dalam berperilaku didalam suatu
kelompok dan masyarakat bagi seseorang terkait dengan sifat baik dan buruk.
Ada juga yang menyebutkan bahwa pengertian etika adalah suatu
ilmu tentang kesusilaan dan perilaku manusia didalam suatu pergaulan dengan
sesama yang menyangkut berbagai prinsip-prinsip dan aturan tentang tingkah laku
yang benar.
“Dengan kata lain, etika adalah
sebuah keajaiban dan tanggungjawab moral untuk setiap orang dalam berperilaku.“
Secara etimologis, kata etika sendiri berasal dari bahasa yunani
kuno, yaitu “Ethikos” yang artinya adalah sebuah prinsip dan aturan yang timbul
dari suatu kebiasaan. Secara etimologis etika memiliki sudut pandang sebagai
normatif yang dimana objeknya adalah manusia dan perbuatannya.
Berikut ada dua macam teori etika, diantaranya sebagai berikut:
Istilah “dentologi” berasal dari kata yunani deon, yang berarti
kewajiban. karena itu etika deontologi ini menekankan kewajiban bagi manusia
untuk bertindak dan berperilaku secara baik.
Misalnya dalam suatu kegiatan bisnis itu akan dinilai baik oleh
etika deontologi bukan karena tindakan itu dapat mendatangkan akibat baik bagi
pelakunya, melainkan karena tindakan itu sejalan dengan kewajiban si pelaku
bisnis.
Etika teleologi ini berasal dari
bahasa yunani yaitu “telos” yang artinya tujuan. Dengan pengertian etika teleologi
yaitu sebagai tolak ukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang
mau dicapai dengan suaru tindakan, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan
oleh akibat tindakan itu sendiri.
Atas dasar ini, dapat disimpulkan bahwa etika teleologi ini
lebih situasional, karena tujuan dan akibat suatu tindakan ini bisa sangat
tergantung pada situsi khusus tertentu. Dua aliran etika teleogi diantaranya:
Dalam pemikiran teori etika atau moral dewasa ini teori hak
memiliki arti sebagai pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi
baik dan buruknya suatu perbuatan atau perilaku.
Teori keutamaan ini adalah teori yang memandang sikap atau
akhlak seseorang. Tidak hanya untuk ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu
yang adil, jujur, murah hati dan sebagainya. Melainkan juga keutamaan ini dapat
didefinisikan sebagai disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan
memungkinkan seseorang itu untuk bertingkah laku baik secara moral.
ETIKA DAN MORAL
1. Konsep Dasar Moral
Moral : Merupakan aturan kesusilaan yang menyangkut budi pekerti manusia yang
beradab (berupa ajaran baik dan buruk, perbuatan, dan kelakuan
atau akhlaq).
Moral dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. Moral Murni : Moral
yang terdapat pada setiap manusia sebagai suatu perwujudan/manifestasi dari
pancaran ilahi.
Moral murni disebut juga Hati
Nurani.
2. Moral Terapan : Moral yang didapat dari
berbagai ajaran filosofi, agama, adat yang menguasai pemutaran manusia.
Contoh moral : Aturan & hukum agama, hukum
adat, wejangan tradisi leluhur, nasehat orang tua, ajaran ideologi dan
lain-lain.
Sumber moral : Tradisi,
adat, agama, ideologi negara, dan lain-lain.
Pluralisme Moral
Pluralisme Moral
terjadi karena :
1. Pandangan
moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama
yang hidup berdampingan.
2. Modernisasi
membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang
akibatnya menantang pandangan moral tradisional.
3. Berbagai
ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan yang masing-masing dengan
ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.
Perbedaan dan
Hubungan Moral dengan Etika ; yaitu :
1. Moral
adalah kepahaman atau pengertian mengenai hal yang baik dan hal yang tidak baik
yang memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada
sekelompok manusia, dimana ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup
dan merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai
serta kewajiban manusia.
Sedangkan Etika merupakan bagian dari ilmu filsafat yang merefleksikan
ajaran moral yang sesuai dengan pemikiran filsafat mengenai kewajiban dan
tingkah laku manusia baik mental maupun fisik mengenai hal-hal yang sesuai
dengan moral itu sendiri, bidang inilah yang selanjutnya disebut bidang moral.
2. Objek
Etika adalah pernyataan-pernyataan moral, oleh karena itu Etika dapat juga
dikatakan sebagai filsafat tentang bidang moral dimana Etika tidak
mempersoalkan keadaan manusia melainkan bagaimana manusia itu harus bertindak.
Moral
merupakan landasan dan patokan bertindak bagi setiap orang dalam kehidupan
sehari-hari ditengah-tengah kehidupan sosial kemasyarakatan maupun dalam
lingkungan keluarga dan yang terpenting moral berada pada batin dan atau
pikiran setiap insan sebagai fungsi kontrol untuk penyeimbang bagi pikiran
negatif yang akan direalisasikan.
Moral
sebenarnya tidak dapat lepas dari pengaruh sosial budaya, setempat yang
diyakini kebenarannya. Moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai
manusia. Hal tersebut akan lebih mudah kita pahami manakala mendengar orang
mengatakan perbuatannya tidak bermoral. Perkataan tersebut mengandung makna
bahwa perbuatan tersebut dipandang buruk atau salah karena melanggar
nilai-nilai dan norma-norma moral yang berlaku dalam masyarakat.
ETIKA DAN AGAMA
Pengertian Agama : Sistem atau prinsip kepercayaan kepada adanya kekuasaan mengatur yang
bersifat luar biasa yang berisi norma-norma atau peraturan yang menata
bagaimana cara manusia berhubungan dengan Tuhan dan bagaimana manusia hidup
yang berkelanjutan sampai sesudah manusia itu mati.
Persamaan dan Perbedaan Etika dan Agama
1. Persamaan
Etika dan Agama ; dapat dibagi berdasarkan, yaitu :
a. Berdasarkan
pada sasarannya
Etika
dan Agama sama-sama bertujuan meletakkan dasar ajaran moral, agar manusia dapat
membedakan mana perbuatan yang baik dan yang tidak baik.
b. Berdasarkan
pada sifatnya
Etika
dan Agama sama-sama bersifat memberi peringatan dan sama-sama bersifat tidak
memaksa.
2. Perbedaan antara Etika dan Agama
a. Dari
segi prinsip
Agama merupakan suatu kepercayaan pengabdian/penghambaan yang berdasarkan
syarat dan cara yang diatur oleh agama itu sendiri kepada Tuhan-nya, sedangkan
Etika bukanlah suatu kepercayaan yang mengandung pengabdian.
b. Dari
sumbernya,
Agama (Islam) itu bersumber dari satu sumber Tuhan, sedangkan Etika
bersumber dari bermacam-macam jenis sumbernya, antara lain sumbernya berasal
dari pemikiran manusia (argumentasi rasional) yang sesuai dengan aliran
masing-masing.
c. Pada
bidang yang diajarkan,
Agama mengajarkan manusia pada beberapa alam (dunia, kubur, akhirat),
sedangkan Etika hanya mempersoalkan kehidupan moral manusia dialam dunia/fana
ini saja.
d. Ajaran Agama
hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya, sedangkan Etika terbuka bagi setiap
orang dari semua agama dan pandangan dunia.
Berdasarkan
hal tersebut dapat disimpulkan antara etika dan agama ada beberapa hal yang
harus diperhatikan :
1. Etika
tidak dapat menggantikan agama dan tidak bertentangan dengan agama.
2. Etika
diperlukan oleh agama.
3. Agama
tidak hanya memberi petunjuk moral, tetapi juga mengajarkan
prinsip-prinsip etis.
4. Agama merupakan hal yang tepat
untuk memberikan orientasi moral, dimana pemeluk Agama menemukan orientasi
dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi Agama itu memerlukan keterampilan
Etika agar dapat memberikan orientasi itu.
Alasan Mengapa Etika diperlukan
Agama ;
1. Orang
beragama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional.
2. Seringkali
ajaran moral yang termuat dalam wahyu agama mengijinkan interpretasi yang
berbeda dan bahkan saling bertentangan.
3. Bagaimana
agama harus bersikap terhadap masalah moral yang tidak disinggung dalam
wahyuNya, misalnya soal aborsi, bayi tabung dan lain-lain.
4. Etika
memungkinkan dialog antar agama, dimana etika dapat menjadi dasar bagi
kerjasama antar agama.
5. Etika
memungkinkan dialog antar agama dengan pandangan-pandangan dunia
jj
2.Klasifikasi
Etika
a. Etika Deskriptif
Etika normatif merupakan cabang etika yang
penyelidikannya terkait dengan pertimbangan-pertimbangan tentang bagaimana
seharusnya seseorang bertindak secara etis. Dengan kata lain, etika normatif
adalah sebuah studi tindakan atau keputusan etis. Di samping itu, etika
normatif berhubungan dengan pertimbangan-pertimbangan tentang apa saja
kriteria-kriteria yang harus dijalankan agar sautu tindakan atau kepusan itu
menjadi baik (Kagan, 1997, 2).
b. Etika Normatif
Etika normatif yaitu sikap dan perilaku manusia atau
masyarakat sesuai dengan norma dan moralitas yang ideal. Etika ini secara umum
dinilai memenuhi tuntutan dan perkembangan dinamika serta kondisi masyarakat.
Adanya tuntutan yang menjadi acuan bagi masyarakat umum atau semua pihak dalam
menjalankan kehidupannya.
c. Etika Deskriptif
Etika deskriptif merupakan sebuah studi tentang apa
yang dianggap ‘etis’ oleh individu atau masyarakat. Dengan begitu, etika
deskriptif bukan sebuah etika yang mempunyai hubungan langsung dengan filsafat
tetapi merupakan sebuah bentuk studi empiris terkait dengan perilaku-perilaku
individual atau kelompok. Tidak heran jika etika deskriptif juga dikenal
sebagai sebuah etika komparatif yang membandingkan antara apa yang dianggap etis
oleh satu individu atau masyarakat dengan individu atau masyarakat yang lain
serta perbandingan antara etika di masa lalu dengan masa sekarang. Tujuan dari
etika deskriptif adalah untuk menggambarkan tentang apa yang dianggap oleh
seseorang atau masyarakat sebagai bernilai etis serta apa kriteria
etis yang digunakan untuk menyebut seseorang itu etis atau tidak (Kitchener,
2000, 3).
d. Metaetika
Metaetika berhubungan dengan sifat penilaian moral.
Fokus dari metaetika adala arti atau makna dari pernyataan-pernyataan yang ada
di dalam etika. Dengan kata lain, metaetika merupakan kajian tingkat kedua dari
etika.