Pengertian Etika Dalam Bisnis
1. Pengertian Etika
Secara etimologi etika berasal dari Bahasa yunani yaitu “ethos” yang berarti sikap, cara berpikir, watak, kesusilaan atau adat. Menurut larkin (2000) “Ethics is concornet with moral obligation, responsibility, and social justice” yang berarti bahwa etika meperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban moral, tanggung jawab, dan keadaan social.[1]
Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia istilah etika diartikan sebagai:
(1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(2) Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
(3) Nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat
Jadi secara etimologis, etika adalah ajaran atau ilmu tentang adat kebiasaan yang berkenaan dengan kebiasaan baik atau buruk, yang diterima umum mengenai sikap, perbuatan, kewajiban dan sebagainya.
Dapat disimpulkan bahwa etika merupakan suatu cabang ilmu filsafat, yang tujuannya adalah mempelajari perilaku, baik moral maupun immoral, dengan tujuan membuat pertimbangan yang cukup beralasan dan dapat diterima oleh suatu golongan tertentu atau individu.
Antonius alijoyo (2004) menerangjan bahwa suatu perusahaan perlu menerapkan nilai-nilai etika berusaha, karna dengan adanya etika berusaha dan kejujuran dalam berusaha dapat menciptakan aset yang langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan nilai perusahaan. Etika bisnis tidak akan dilanggar jika terdapat aturan dan sangsi.
Para pelaku usaha dapat memperoleh ilmu etika melalui etika, selain pengalaman dan innformasi moral yang diterima dari berbagai sumber. Dalam teori etika ada 4 macam yaitu:
(1) Etika Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban atau sesuai dengan prosedur dan logos yang berarti ilmu atau teori. Menurut teori ini beberapa prinsip moral itu bersifat mengikat betapapun akibatnya. Etika ini menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdsarkan akibat atau tujuan baik dari tidakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri. Atau dengan kata lain tindakan itu bernilai moral karna tindakan itu dilaksanakan kewajiban yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Teori ini menekankan kewajiban sebagai tolak ukur penilaian baik atau buruknya perbuatan manusia, dengan mengabaikan dorongan lain seperti rasa cinta atau belas kasihan. Terdapat tiga kemungkinan seseorang memenuhi kewajibannya yaitu: karna nama baik, karna dorongan tulus dari hati nurani serta memenuhi kewajibannya. Deontologist menetapkan aturan, prinsip dan hak berdasarkan pada agama, tradisi, arau adat istiadat yang berlaku. Yang menjadi tantangan dalam penerapan deontological disini adalah menentukan mana tugas, kewajiaban, hak, prinsip yang didahulukan. Sehingga banyak fiosof yang menyarankan bahwa tidak semua prinsip deontological harus ditetapkan secara absolut. Teori ini memang berpijak pada norma-norma moral kongkrit yang harus ditaati, namun belum tentu mengikat untuk kondisi yang bersifat khusus. Contohnya seseorang boleh saja merampok kalau hasil rampokannya dipakai untuk memberi makan orag yang terkena musibah.
(2) Etika Teleogi
Istilah teleology berasal dari kata Yunai telos yang berarti tujuan, sasaran, atau hasil dan logos yang berarti ilmu atau teori. Etika ini mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dalam tindakan itu, atau berdasarkan konsekuensi yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Suatu tindakan dinilai baik, kalau bertujuan mencapai sesuatu yang baik, atau kalau konsekunsi yang ditimbulkannya baik dan berguna. Bila kita akan memutuskan apa yang benar, kita tidak hanya melihat konsekuensi keputusan tersebut dari sudut pandamg kepentingan kita sendiri. Tantangan yang sering dihadapi dalam penggunaan teori ini adalah bila kita bisa kesulitan dalam mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan mengevalusi semua kemungkinan konsekunsi dari keputusan yang diambil.
(3) Etika Hak
Etika hak memberi bekal kepada pebisnis untuk mengevaluasi apakah tindakan, perbuatan dan kebijakan bisnisnya telah tergolng baik atau buruk dengan menggunakan kaidah hak sesorang, hak seseorang sebagai manusia tidak dapat dikorbankan oleh orang lain atas statusnya.
Hak manusia adalah hak yang dianggap melekat pada setiap manusia, sebab berkaitan dengan realitas hidup manusia sendiri. Etika hak kadang kala dinamakan “hak manusia” sebab manusia berdasarkan etika harus dinilai menurut martabatnya. Etika mempunyai sifat dasar dan asasi (human reights), sehingga etika hak tersebut merupakan hak yang: (1) tidak dapat dicabut atau direbut karna sudah ada sejak manusia itu ada (2) tidak tergantung kepada persetujuan orang (3) merupakan bagian dari eksistensi manusia di dunia.
(4) Etika Keutamaan
Etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat suatu tindakan, tidak berdasarkan penilaian moral pada kewajiban terhadap hukum moral universal seprti kedua teori sebelumnya. Etika ini lebih mengutaman pembangunan karakter moral pada diri setiap orang. Nilai moral buakn muncul dalam bentuk adanya aturan berupa larangan atau perintah, namun dalam bentuk teladan moral yang nyata dipraktikkan oleh tokoh tertentu dalam masyarakat. Didalam etika karakter lebih banyak dibentuk oleh komunitasnya. Pendekatan ini terutama berguna dalam menentukan etika individau yang bekerja dalam seuah komunitas professional yang telah mengembangkan norma dan standar yang cukup baik. Keuntungan teori ini bahwa pengambil keputusan dapat dengan mudah mencocokkan dengan standar etika komunitas tertentu untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah tanpa ia harus menentukan kriteria terlebih dahulu (dengan asumsi telah ada kode perilaku).
2. Pengertian Bisnis
Bisnis adalah kegiatan manusia dalam mengorganisasikan sumberdaya untuk menghasilkan dan mendistribusikan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Bisnis adalah membuktikan apa yang dijanjikan (promise) dengan yang diberikan (deliver). Bisnis adalah kegiatan diantara manusia untuk mendatangkan keuntungan. Dalam bisnis terdapat persaingan dengan aturan yang berbeda dengan norma-norma yang berbeda dalam masyarakat. Dalam kamus besar Bahasa Indonesi bisnis diartikan sebagai:
a. Kegiatan dengan mengarahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud
b. Kegiatan dalam bidang perdagangan atau perbisnisan
Bisnis dapat pula diartikan berdasarkan konteks organisasi perusahaan, yaitu: usaha yang dilalukan organisasi atau perusahaan dengan menyediakan produk barang atau jasa dengan tujuan memperoleh nilai yang lebih (value added). Karna organisasi (perusahaan) yang menyediakan produk barang atau jasa tertentu dengan tujuan memperoleh untung atau laba, tentu saja prospek mendapatkan laba, selalu memperhitungkan perbedaan penerimaan bisnis dengan biaya yang dikeluarkan. Maka laba disini merupakan pemicu (driver)bagi pebisnis untuk memulai dan mengembangkan bisnis. Bagaimanapun juga pebisnis mendapatkan laba dari resiko yang telah diambil ketika menginvestaiskan sumberdaya (modal, keahlian, dan waktu) mereka.
Dalam system kapitalis bisnis dijalankan untuk mendapatkan lababagi pemilik dan juga bebas untuk mendapatkannya. Namun konsumen juga memiliki kebebasan untuk memilih. Dalam memilih cara mengejar laba bisnis harus memperhitungkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen.
3. Pengertian Etika dalam Bisnis
Istilah etika bisnis, jauh lebih muda dari pada istilah etika itu sendiri. Etika bisnis sudah mulai muncul sejak tahun 1960an. Pada saat itu ditandai dengan perubahan-perubahan sudut pandang dalam perilaku komunitas di Amerika Serikatdan uga menghadapi dunia bisnis. Setelah perang dunia kedua berakhi, perang dingin dengan Uni Soviet masih tetap berlanjut, Amerika saat itu melibatkan diri dalam perang Vietnam, yang mendorong para oposisi untuk mengeluarkan isu-isu kebijakan public dan pergerakan-pergerakanhak-hak rakyat sipil mencuat di tengah-tengah masyarakat.
Ekonomi Amerika kala itu bertumbuh cepat dan mendominasi pertumbuhan ekonomi dunia, Amerika merajai bisnis ekonomi dunia, perusahaan-perusahaannya beroperasi dibanyak Negara-negara dunia. Pelaku-pelaku bisnis yang memiliki harta cukup banyak memasuki panggung politik dan berhasil dan sebagian pengusaha lainnya menjadi penguasa pemerintah kala itu. Bisnis-bisnis besar telah menggeser posisi bisnis-bisnis kecil dan menengah. Disektor industri tercatat perkembangan yang cukup tajam dengan menghasilkan banyak inovasi baru yang spektakuler. Tidak semua inovasi dan teknologi yang ditemukan berdampak positif bagi kehidupan manusia dan sebagian menjadi penyebab kerusakan lingkungan yang parah. Sustainability nyaris terabaikan dalam pemikiran pebisnis saat itu, hingga mereka menuai protes dari benyak kalangan pecinta alam baik dari dalam negri maupun dari luar negri termasuk Indonesia. Kritikan-kritikan dari politisi pun bermunculan, demikian juga gerakan-gerakan swadaya masyarakat yang mengusung kepentingan public. Desakan-desakan tersebut akhirnya mendorong peruaahaan-perusahaan untuk merumuskan berbagai progam tanggung jawab social perusahaan (corporate social responsibility).
Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat. Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh ketentuan hukum.
Sebagai cabang dari filsafat etika, maka tidak lain etika bisnis merupakan penerapan prinsip-prinsip etika dengan kedekatan filsafatdalam kegiatan progam bisnis. Karena semua teori tentang etika dapat dimanfaatkan untuk membahas tentang etika bisnis. Aspek yang dominan dari semua etika bisnis bermuara pada peilaku bermoral dalam kegiatan bisnis.
Etika dalam arti sebenarnya dianggap sebagai acuan yang menyatakan apakah tindakan, aktifitasm atau perilaku individu bisa dianggap baik atau tidak.
Mengacu kepada batasan etika bisnis dari berbagai pandangan ahli yang telah dikemukakan, maka peran etika bisnis adalah membahas dan menunjukkan alternative pemecahan masalah bisnis yang berlandaskan nilai-nilai moralitas dalam suatu kegiatan bisnis. Landasan dalam hal ini adalah prinsip-prinsip, nilai dan norma moral yang terwujud dalam sikap dan perangai (akhlak) para pelaku bisnis dalam menyelenggarakan usaha bisnisnya dengan menjunjung tinggi pertisipan bisnisnya.
Etika bisnis merupakan salah satu bagian dari prinsip etika yang diterapkan dalam dunia bisnis (Lozano, 1996). Istilah etika bisnis mengandung pengertian bahwa etikka bisnis merupakan sebuah rentang aplikasi etika yang khusus mempelajari tindakan yang diambil oleh bisnis dan pelaku bisnis.
Beberapa pebisnis berpendapat bahwa terdapat hubungan simbolis antara etika dan bisnis dimana masalah etik sering dibicarakan pada bisnis yang berorientasi pada keuntungan. Dalam hal ini terdapat versi yang lemah dan versi yang kuat. Versi yang lemah mengatakan bahwa etika yang baik dihasilkan oleh bisnis yang baik. Sedangkan versi yang kuat menyatakan bahwa dalam pasar yang kompetitif dan bebas, motif keuntungan akan terkait dengan lingkungan yang sesuai dengan isu moral tersebut. Itulah sebabnya jika pelanggan menginginkan produk yang aman, atau para pekerja menginginkan privasi, maka mereka akan memperolahnya dari bisnis yang memenuhi kebutuhan tersebut. Dan bisnis yang tidak memenuhi kebutuhan tersebut maka bisnis itu tidak akan bertahan. Sejak adanya pandangan bahwa dorongan untuk emperoleh keuntungan akan menciptakan moralitas, versi yang kuat mengemukakan bahwa bisnis yang baik dihasilkan oleh etika yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar